Selain Diabetes, Ini Kelompok yang Juga Rentan Mengalami Gangguan Saraf Gangguan saraf sering langsung dikaitkan dengan diabetes. Anggapan itu tidak sepenuhnya salah, karena diabetes memang menjadi salah satu penyebab paling umum neuropati perifer. Namun kenyataannya, orang yang rentan mengalami gangguan saraf jauh lebih banyak daripada yang sering dibayangkan. Saraf tepi bisa terganggu karena kekurangan vitamin, konsumsi alkohol berlebihan, penyakit autoimun, gangguan ginjal, penyakit tiroid, infeksi tertentu, cedera, hingga efek samping obat. NINDS, Mayo Clinic, dan NHS sama sama menegaskan bahwa penyebab neuropati perifer sangat luas, dan diabetes hanyalah salah satu di antaranya.
Masalahnya, gejala awal gangguan saraf sering terasa ringan dan tidak khas. Kesemutan, baal di kaki, rasa terbakar, nyeri seperti tertusuk, atau kaki yang terasa tebal saat berjalan kerap dianggap hanya pegal biasa. Karena gejalanya tidak selalu meledak sejak awal, banyak orang baru sadar setelah gangguan mulai mengubah cara berjalan, kekuatan tangan, atau keseimbangan tubuh. Inilah yang membuat pembahasan soal siapa saja yang rentan mengalami gangguan saraf menjadi penting, terutama agar orang tidak terlalu cepat merasa aman hanya karena tidak memiliki diabetes.
Gangguan saraf tidak hanya muncul dari gula darah tinggi
Neuropati perifer terjadi ketika saraf di luar otak dan sumsum tulang belakang mengalami kerusakan. Saraf ini bertugas membawa sinyal rasa, gerakan, dan sebagian fungsi otomatis tubuh. Saat saraf terganggu, keluhannya bisa berupa mati rasa, nyeri, kelemahan, gangguan koordinasi, atau perubahan pada fungsi tubuh tertentu. Mayo Clinic menjelaskan bahwa neuropati perifer paling sering memengaruhi tangan dan kaki, tetapi juga dapat memengaruhi pencernaan, buang air kecil, dan fungsi tubuh lain.
Karena gejalanya banyak dan penyebabnya beragam, gangguan saraf sering menjadi kondisi yang membingungkan. Ada pasien yang merasa hanya telapak kakinya panas pada malam hari. Ada pula yang mengeluh ujung jari tangan mudah baal, keseimbangan menurun, atau kaki terasa seperti memakai kaus kaki tebal padahal tidak. NHS menyebut gejala seperti kesemutan, baal, nyeri terbakar, dan kehilangan keseimbangan sebagai tanda umum neuropati perifer. Jadi, bila orang hanya mengaitkan semua itu dengan diabetes, banyak kasus lain bisa terlewat.
Peminum alkohol jangka panjang termasuk kelompok yang sangat rentan
Salah satu kelompok yang cukup rentan tetapi sering tidak disadari adalah orang yang mengonsumsi alkohol berlebihan dalam jangka panjang. NINDS dan NHS menyebut alkohol sebagai penyebab penting neuropati perifer. Alkohol dapat mengganggu nutrisi, merusak saraf secara langsung, dan memperburuk kondisi tubuh secara keseluruhan sehingga saraf lebih mudah terkena gangguan.
Yang membuat kelompok ini rawan adalah karena gejalanya sering muncul perlahan. Pada awalnya mungkin hanya ada rasa baal atau lemah di kaki, lalu berkembang menjadi langkah yang tidak mantap atau nyeri yang mengganggu tidur. Banyak orang baru menghubungkannya dengan alkohol setelah gangguan saraf sudah cukup jauh. Ini sebabnya riwayat konsumsi alkohol tidak boleh dianggap hal kecil saat dokter mencoba mencari penyebab neuropati.
Selain itu, konsumsi alkohol lama juga dapat berkaitan dengan kekurangan vitamin tertentu, terutama yang penting untuk kesehatan saraf. Jadi, risiko pada kelompok ini sering datang dari dua arah sekaligus, yaitu efek langsung alkohol dan gangguan nutrisi yang mengikutinya.
Orang dengan kekurangan vitamin B12 juga patut waspada
Kekurangan vitamin B12 adalah salah satu penyebab gangguan saraf yang sangat penting karena gejalanya bisa muncul bahkan sebelum anemia terlihat jelas. NHS menyebut rendahnya kadar vitamin B12 atau vitamin lain sebagai salah satu penyebab neuropati perifer. NINDS juga menegaskan bahwa ketidakseimbangan nutrisi dapat merusak saraf.
Kelompok yang rentan kekurangan vitamin B12 cukup luas. Mereka yang pola makannya sangat terbatas, orang usia lanjut dengan gangguan penyerapan, pasien dengan gangguan saluran cerna tertentu, sampai pengguna obat tertentu dapat masuk ke kelompok ini. Ketika vitamin B12 turun, gejala neurologis dapat muncul dalam bentuk kesemutan simetris, mati rasa, gangguan gaya berjalan, atau kelemahan yang berkembang perlahan. Beberapa panduan klinis NHS juga menekankan bahwa gejala defisiensi B12 bisa terjadi tanpa anemia yang jelas.
Karena itu, orang yang merasa sering baal, gampang goyah, atau merasakan perubahan sensasi di tangan dan kaki tidak boleh hanya memikirkan diabetes. Pemeriksaan kadar vitamin B12 pada kondisi tertentu justru bisa sangat membantu menemukan akar masalah lebih cepat.
Penderita penyakit autoimun punya risiko yang tidak kecil
Kelompok berikutnya adalah penderita penyakit autoimun. NINDS menyebut bahwa autoantibodi dapat menyebabkan kerusakan saraf perifer. Pada kondisi autoimun, sistem kekebalan tubuh yang seharusnya melindungi justru menyerang jaringan tubuh sendiri, termasuk saraf atau struktur di sekitarnya.
Risiko ini penting karena penyakit autoimun sering tidak hanya menyerang satu organ. Saat sistem imun menjadi terlalu aktif atau salah sasaran, gejala saraf bisa muncul sebagai bagian dari gambaran penyakit yang lebih besar. Pada sebagian orang, gangguan saraf bahkan menjadi salah satu keluhan awal yang paling mengganggu, misalnya rasa baal, nyeri terbakar, atau kelemahan di kaki dan tangan.
Dalam praktik klinis, neuropati pada penyakit autoimun sering membutuhkan perhatian khusus karena penanganannya tidak cukup hanya mengurangi nyeri. Akar peradangan atau serangan imun juga harus dikendalikan. Karena itu, orang dengan penyakit autoimun yang mulai merasakan gejala saraf perlu lebih cepat mencari evaluasi medis, bukan menganggapnya sebagai keluhan biasa.
Pasien dengan gangguan ginjal dan hati juga berisiko
Penyakit ginjal kronis dan penyakit hati kronis juga termasuk kondisi yang dapat berkaitan dengan gangguan saraf. NHS menyebut chronic kidney disease dan chronic liver disease sebagai penyebab yang mungkin untuk neuropati perifer. Ini menunjukkan bahwa saraf sangat dipengaruhi kondisi tubuh secara keseluruhan, bukan hanya kadar gula darah.
Pada gangguan ginjal, penumpukan zat sisa dan perubahan metabolik dapat ikut memengaruhi kesehatan saraf. Sementara pada gangguan hati, keseimbangan tubuh juga bisa terganggu sehingga jaringan saraf menjadi lebih rentan. Bagi pasien yang sudah hidup dengan penyakit ginjal atau hati, kemunculan kesemutan, nyeri kaki, atau penurunan rasa sentuh tidak boleh dianggap kebetulan.
Yang sering luput, pasien dengan penyakit kronis seperti ini juga kerap mengonsumsi banyak obat, menjalani pola makan khusus, dan mengalami perubahan energi tubuh. Karena itu, gangguan saraf pada mereka bisa datang dari kombinasi beberapa faktor, bukan satu sebab tunggal. Ini membuat evaluasi dokter menjadi sangat penting agar penanganannya tidak salah arah.
Orang dengan gangguan tiroid juga bisa mengalami neuropati
Gangguan tiroid, khususnya hipotiroidisme yang tidak tertangani dengan baik dalam jangka panjang, juga bisa berkaitan dengan neuropati perifer. Mayo Clinic menjelaskan bahwa hipotiroidisme jangka panjang dapat menyebabkan pembengkakan jaringan akibat retensi cairan, dan keadaan ini bisa memberi tekanan pada saraf perifer. NHS juga memasukkan kelenjar tiroid yang kurang aktif sebagai salah satu penyebab neuropati perifer.
Ini penting karena gejala hipotiroidisme sendiri sering samar, seperti mudah lelah, kulit kering, berat badan naik, atau tubuh terasa lambat. Ketika kemudian muncul kesemutan atau baal, banyak orang tidak langsung menghubungkannya dengan tiroid. Padahal pada sebagian pasien, gangguan tiroid yang berlangsung lama dapat ikut menciptakan masalah pada saraf.
Karena itu, orang yang sudah diketahui memiliki hipotiroidisme dan mulai merasakan perubahan sensasi di tangan atau kaki perlu lebih waspada. Gangguan saraf dalam situasi seperti ini tidak boleh dianggap sekadar kebetulan atau kelelahan biasa.
Penyintas infeksi tertentu juga termasuk kelompok rentan
Infeksi tertentu dapat merusak saraf atau memicu peradangan yang mengenai sistem saraf tepi. NHS menyebut shingles, Lyme disease, diphtheria, botulism, dan HIV sebagai contoh infeksi yang bisa menyebabkan neuropati perifer. Ini mengingatkan bahwa gangguan saraf kadang muncul sebagai jejak dari penyakit infeksi, bukan semata gangguan metabolik.
Pada beberapa kasus, gejala saraf muncul saat infeksi masih aktif. Pada kasus lain, keluhan bisa baru terasa setelah fase infeksi utama lewat. Hal ini membuat orang kadang tidak menghubungkan keduanya. Padahal riwayat infeksi tertentu dapat menjadi petunjuk yang sangat penting saat dokter menilai penyebab neuropati.
Bagi pasien yang pernah mengalami infeksi berat atau infeksi yang dikenal bisa mengenai saraf, kemunculan baal, nyeri terbakar, atau kelemahan tidak boleh diabaikan. Saraf yang sudah terlibat perlu dinilai lebih dini agar gangguannya tidak makin luas.
Pasien yang menjalani kemoterapi atau obat tertentu juga patut diperhatikan
Tidak sedikit obat yang diketahui bisa menimbulkan neuropati sebagai efek samping. Di luar kemoterapi yang sudah cukup dikenal berkaitan dengan kerusakan saraf, beberapa obat lain juga memiliki peringatan serupa. Mayo Clinic, misalnya, pada informasi obat leflunomide menegaskan bahwa sensasi terbakar, baal, kesemutan, atau nyeri pada tangan dan kaki dapat menjadi tanda peripheral neuropathy dan perlu segera diperiksakan.
Ini berarti pasien yang sedang menjalani terapi obat tertentu tidak boleh menyepelekan gejala saraf yang muncul mendadak atau makin terasa setelah pengobatan berjalan. Kadang orang terlalu fokus pada penyakit utamanya, sementara keluhan saraf dianggap hal kecil yang akan hilang sendiri. Padahal pada situasi tertentu, perubahan terapi atau evaluasi cepat justru penting untuk mencegah gangguan saraf menjadi lebih menetap.
Dalam kelompok ini, komunikasi dengan dokter sangat penting. Bukan semua obat harus dihentikan, tetapi setiap gejala baru yang mengarah ke neuropati perlu dinilai secara serius. Efek samping obat adalah salah satu alasan kenapa gangguan saraf tidak boleh selalu dipersempit menjadi soal diabetes saja.
Orang yang mengalami cedera saraf atau tekanan berulang juga berisiko
Selain penyakit dalam, kerusakan fisik pada saraf juga dapat menimbulkan neuropati. NHS menyebut physical damage to the nerves, seperti akibat cedera atau operasi, sebagai salah satu penyebab. Ini berarti orang yang pernah mengalami trauma, patah tulang, operasi tertentu, atau tekanan berulang pada saraf juga berada dalam kelompok yang perlu waspada.
Pada kelompok ini, gejala bisa lebih terlokalisasi. Misalnya hanya satu sisi tangan yang sering baal, satu kaki yang terasa lemah, atau nyeri tajam pada jalur saraf tertentu. Karena gejalanya kadang tidak simetris, orang sering mengira itu sekadar pegal atau saraf terjepit yang akan sembuh sendiri. Padahal jika saraf terus tertekan atau cedera tidak pulih baik, keluhan bisa menetap lebih lama.
Risiko ini juga perlu dipikirkan oleh orang yang pekerjaannya melibatkan gerakan berulang, postur yang buruk, atau tekanan mekanis terus menerus pada area tertentu. Gangguan saraf tidak selalu datang dari dalam tubuh. Kadang penyebabnya sangat mekanis dan dekat dengan aktivitas harian.
Usia lanjut membuat risiko meningkat
NHS 111 Wales menyebut hampir 1 dari 10 orang usia 55 tahun atau lebih diperkirakan mengalami peripheral neuropathy. Ini menunjukkan usia sendiri menjadi faktor penting. Semakin bertambah umur, semakin besar kemungkinan seseorang memiliki kombinasi faktor risiko, seperti diabetes, kekurangan vitamin, penyakit kronis, penggunaan banyak obat, dan penurunan fungsi tubuh lain yang ikut memengaruhi saraf.
Pada usia lanjut, masalahnya juga menjadi lebih serius karena efek neuropati tidak berhenti pada rasa tidak nyaman. Baal di kaki atau gangguan keseimbangan dapat membuat risiko jatuh meningkat. Pada lansia, jatuh bukan urusan ringan, karena bisa berujung pada patah tulang, kehilangan kemandirian, dan penurunan kualitas hidup yang sangat besar.
Karena itu, jika orang yang lebih tua mulai mengeluh telapak kaki tebal, sering tersandung, atau kesulitan merasakan pijakan, kondisi ini perlu diperlakukan dengan serius. Gangguan saraf pada kelompok usia lanjut bukan hanya soal nyeri, tetapi juga soal keselamatan harian.
Gejala yang perlu cepat diperiksa
Apa pun penyebabnya, ada beberapa gejala yang sebaiknya tidak ditunda untuk diperiksakan. Di antaranya kesemutan yang berulang atau menetap, mati rasa di tangan atau kaki, rasa terbakar, nyeri seperti ditusuk atau tersengat listrik, kelemahan otot, gangguan berjalan, dan kehilangan keseimbangan. Mayo Clinic dan NINDS menegaskan gejala seperti ini merupakan gambaran khas neuropati perifer.
Selain itu, gejala yang makin memburuk, muncul pada kedua kaki atau tangan secara simetris, atau mulai mengganggu aktivitas sehari hari juga perlu perhatian cepat. Apalagi bila keluhan disertai penurunan berat badan tanpa sebab, kelelahan berat, atau riwayat penyakit kronis tertentu. Dalam situasi seperti itu, pemeriksaan bukan hanya penting untuk meredakan gejala, tetapi untuk menemukan sumber masalah lebih awal.
Gangguan saraf memang sering tidak muncul dengan suara keras. Namun justru karena ia datang pelan, orang perlu lebih peka. Diabetes memang tetap menjadi penyebab yang sangat umum, tetapi jelas bukan satu satunya. Peminum alkohol jangka panjang, orang dengan kekurangan vitamin B12, penderita penyakit autoimun, pasien gangguan ginjal atau hati, orang dengan gangguan tiroid, penyintas infeksi tertentu, pengguna obat tertentu, mereka yang mengalami cedera saraf, dan lansia semuanya termasuk kelompok yang patut lebih waspada.
