Nara Park menjadi salah satu tempat di Jepang yang mampu mempertemukan kehidupan satwa liar, ruang hijau, bangunan keagamaan, dan jejak pemerintahan kuno dalam satu kawasan. Pengunjung dapat melihat rusa berjalan di antara pepohonan, beristirahat di halaman kuil, menyeberangi jalan, atau mendekati wisatawan yang membawa makanan khusus.
Pemandangan tersebut membuat Nara Park terlihat seperti taman rusa biasa. Padahal, kawasan ini merupakan bagian penting dari identitas Nara, kota yang pernah menjadi pusat pemerintahan Jepang pada abad kedelapan. Di sekeliling taman berdiri sejumlah kuil Buddha, kompleks Shinto, museum, kolam, hutan tua, dan Gunung Wakakusa.
Wilayah Nara Park mencakup sekitar 660 hektare apabila dihitung bersama kawasan bersejarah dan alam di sekitarnya. Taman ini menampung Todaiji, Kofukuji, Kasuga Taisha, Museum Nasional Nara, serta Hutan Purba Kasugayama. Sekitar 1.300 rusa berkeliaran bebas di kawasan tersebut.
Taman Luas yang Menyatu dengan Kota Nara
Nara Park berbeda dari taman kota yang memiliki pagar dan satu pintu utama. Batasnya tidak selalu terlihat jelas karena jalur pejalan kaki, halaman kuil, jalan umum, lapangan rumput, dan kawasan hutan saling terhubung. Pengunjung dapat masuk dari berbagai arah tanpa merasa sedang melewati sebuah gerbang taman.
Area publik Nara Park buka sepanjang hari dan dapat dimasuki tanpa tiket. Namun, bangunan keagamaan, museum, kebun, dan beberapa fasilitas di dalamnya memiliki jam operasional serta biaya masuk masing masing. Wisatawan perlu membedakan antara taman yang gratis dan bangunan tertentu yang memerlukan tiket.
Lokasinya juga mudah dijangkau dari pusat kota. Perjalanan berjalan kaki dari Stasiun Kintetsu Nara membutuhkan waktu sekitar delapan menit, sedangkan dari Stasiun JR Nara sekitar 20 menit. Bus kota dapat digunakan oleh pengunjung yang ingin langsung menuju kawasan Todaiji, Kasuga Taisha, atau lokasi lain di bagian timur taman.
Kedekatan tersebut membuat Nara Park sering masuk dalam perjalanan sehari dari Osaka atau Kyoto. Meski demikian, luas kawasan dan banyaknya tempat bersejarah membuat kunjungan beberapa jam terasa terburu buru. Pengunjung yang ingin memasuki kuil, museum, dan Gunung Wakakusa dapat menyediakan satu hari penuh.
“Nara Park bukan tempat yang selesai dinikmati hanya dengan memberi makan rusa. Setiap jalur membawa pengunjung menuju lapisan sejarah dan pemandangan yang berbeda.”
Rusa Nara Bukan Hewan Peliharaan
Rusa merupakan penghuni paling terkenal di Nara Park. Hewan tersebut terbiasa melihat manusia dan sering berjalan mendekati wisatawan, tetapi statusnya tetap sebagai satwa liar. Pengunjung tidak boleh memperlakukannya seperti hewan peliharaan yang selalu tenang atau dapat disentuh sesuka hati.
Rusa Nara termasuk jenis rusa sika Jepang dengan nama ilmiah Cervus nippon. Mereka telah hidup di kawasan tersebut selama lebih dari 1.300 tahun. Penelitian genetika menunjukkan bahwa kelompok rusa di sekitar Kasuga Taisha mempertahankan garis genetik kuno yang terpisah cukup lama dari kelompok rusa di daerah lain. Rusa Nara juga ditetapkan sebagai monumen alam Jepang.
Keberadaan mereka berkaitan erat dengan kepercayaan di Kasuga Taisha. Menurut cerita pendirian kuil tersebut, salah satu dewa datang dari Kashima menuju Gunung Mikasa dengan menunggang rusa putih. Sejak saat itu, rusa dipandang sebagai pembawa pesan para dewa dan dilindungi oleh masyarakat setempat.
Pada masa lampau, membunuh rusa di Nara dapat berujung hukuman berat. Statusnya sebagai hewan suci berubah setelah Perang Dunia Kedua, tetapi perlindungan terhadap rusa tetap berlanjut. Kini, perawatan dilakukan melalui kerja pengelola taman, lembaga perlindungan rusa, masyarakat, dan kegiatan edukasi wisatawan.
Kebiasaan Membungkuk yang Menarik Perhatian Wisatawan
Sebagian rusa terlihat menundukkan kepala ketika berhadapan dengan manusia. Gerakan tersebut sering disebut sebagai kebiasaan membungkuk, menyerupai bentuk penghormatan dalam masyarakat Jepang. Wisatawan kemudian membalasnya sebelum memberikan biskuit rusa.
Perilaku itu tidak berarti setiap rusa akan selalu membungkuk. Rusa dapat melakukannya karena telah menghubungkan gerakan tertentu dengan pemberian makanan. Ada rusa yang langsung mendekat, ada pula yang tetap menjaga jarak atau memilih beristirahat.
Pengunjung tidak perlu memaksa rusa untuk menundukkan kepala. Mengangkat makanan terlalu tinggi, menggoda terlalu lama, atau menahan biskuit di depan rusa dapat membuat hewan tersebut tidak sabar. Rusa bisa menarik pakaian, menyenggol tubuh, atau mengikuti pengunjung yang masih membawa makanan.
Shika Senbei Menjadi Makanan Khusus untuk Rusa
Makanan yang diperbolehkan untuk diberikan adalah shika senbei, yakni biskuit khusus rusa yang dijual di sejumlah kios resmi. Satu ikat biasanya berisi sekitar sepuluh keping dan dijual seharga 200 yen. Sebagian hasil penjualannya digunakan untuk membantu kegiatan perlindungan rusa.
Biskuit sebaiknya diberikan satu per satu. Setelah persediaan habis, pengunjung dapat memperlihatkan kedua telapak tangan agar rusa mengetahui tidak ada makanan tersisa. Cara ini membantu mengurangi kemungkinan rusa terus mengikuti atau memeriksa tas dan pakaian.
Makanan manusia seperti roti, camilan, permen, sayuran berbumbu, serta produk dalam kemasan tidak boleh diberikan. Rusa sebenarnya memperoleh makanan utama dari rumput, tanaman, dan daun rendah. Biskuit hanya menjadi makanan tambahan, bukan sumber makanan harian mereka.
Cara Berinteraksi dengan Rusa Tanpa Mengganggu Satwa
Rusa Nara dapat menggigit, menendang, menyeruduk, atau menjatuhkan orang ketika merasa terancam maupun terlalu bersemangat mengejar makanan. Risiko meningkat ketika wisatawan berdiri terlalu dekat, mengepung rusa untuk berfoto, menyentuh anak rusa, atau membawa biskuit dalam jumlah besar.
Rusa jantan perlu lebih diwaspadai pada musim gugur ketika perilakunya dapat menjadi lebih agresif. Rusa betina juga dapat bersikap protektif saat memiliki anak. Pengelola mengingatkan wisatawan agar tidak mendekati induk dan anak rusa, terutama ketika keduanya sedang beristirahat atau berada jauh dari kelompok lain.
Anak kecil sebaiknya selalu didampingi orang dewasa ketika memegang biskuit. Posisi tangan perlu dijauhkan dari wajah, sedangkan tas, peta, tiket, dan kertas tidak boleh dibiarkan menggantung. Rusa kadang mencoba memakan benda yang dianggap menyerupai makanan.
Sampah plastik menjadi persoalan serius karena dapat tertelan oleh rusa. Nara Park tidak menyediakan banyak tempat sampah, sehingga pengunjung diminta membawa kembali seluruh kemasan, botol, kantong, dan sisa makanan. Aturan ini diterapkan untuk menjaga kebersihan taman sekaligus keselamatan satwa.
Todaiji dan Patung Buddha Besar yang Menjadi Ikon Nara
Perjalanan melalui Nara Park sering diarahkan menuju Todaiji. Jalurnya melewati lapangan rumput dan Gerbang Nandaimon yang berukuran besar. Rusa dapat terlihat berdiri di depan gerbang, beristirahat di bawah pepohonan, atau berjalan bersama pengunjung menuju bagian utama kompleks.
Todaiji berkaitan erat dengan masa ketika Nara menjadi ibu kota Jepang. Kompleks tersebut termasuk bagian dari Historic Monuments of Ancient Nara yang terdaftar sebagai Warisan Dunia UNESCO. Kelompok situs itu memperlihatkan perkembangan arsitektur, seni, keagamaan, dan tata pemerintahan Jepang pada abad kedelapan.
Bangunan yang paling banyak dikunjungi adalah Daibutsuden atau Aula Buddha Besar. Di dalamnya terdapat patung Buddha Vairocana berukuran raksasa. Ruang aula yang luas, struktur kayu, dupa, patung penjaga, dan cahaya yang masuk dari pintu menciptakan suasana yang berbeda dari halaman ramai di luar.
Aula Buddha Besar buka pukul 07.30 sampai 17.30 dari April hingga Oktober. Pada November hingga Maret, jam kunjungan berlangsung pukul 08.00 sampai 17.00. Harga tiket individu untuk pengunjung berusia 13 tahun ke atas tercatat 800 yen, sedangkan anak berusia 6 sampai 12 tahun dikenai 400 yen.
Kompleks Todaiji tidak hanya berisi Daibutsuden. Pengunjung dapat melanjutkan perjalanan menuju Nigatsudo yang berada di lereng lebih tinggi. Teras bangunannya menyajikan pemandangan atap kuil, pepohonan, dan sebagian Kota Nara. Jalurnya lebih sepi dibandingkan area Buddha Besar, terutama pada pagi hari.
Kasuga Taisha Bersembunyi di Balik Jalur Lentera Batu
Dari area tengah taman, pengunjung dapat berjalan menuju Kasuga Taisha melalui jalan yang dikelilingi hutan. Ratusan lentera batu berdiri di sepanjang jalur. Lumut menutupi sebagian permukaannya, sementara rusa muncul di antara pepohonan dan bangunan kecil.
Kasuga Taisha didirikan pada 768 dan memiliki hubungan dengan keluarga Fujiwara, salah satu keluarga berpengaruh dalam sejarah Jepang. Kompleksnya menjadi bagian dari Historic Monuments of Ancient Nara bersama Hutan Purba Kasugayama yang terletak di belakangnya.
Warna merah terang pada bangunan utama terlihat mencolok di tengah hutan. Lentera perunggu menggantung di koridor, sedangkan lentera batu memenuhi jalur masuk. Ribuan lentera tersebut berasal dari sumbangan keluarga, bangsawan, serta penganut yang datang dalam berbagai periode.
Gerbang Nanmon menjadi bangunan terbesar di kompleks dengan tinggi sekitar 12 meter. Dari sana, pengunjung dapat memasuki area yang dikelilingi koridor menuju tempat suci utama. Sejumlah bagian dapat dilihat tanpa biaya, sementara kawasan dalam memiliki ketentuan kunjungan tersendiri.
Kasuga Taisha juga memiliki kebun botani dan museum. Pengunjung yang menyediakan waktu lebih panjang dapat melihat tanaman yang disebut dalam kumpulan puisi klasik Jepang atau koleksi benda keagamaan yang berkaitan dengan sejarah kuil.
Kofukuji Menyambut Pengunjung dari Arah Pusat Kota
Kofukuji menjadi salah satu situs pertama yang dijumpai apabila pengunjung berjalan dari Stasiun Kintetsu Nara. Letaknya dekat Kolam Sarusawa dan pusat pertokoan sehingga mudah dimasukkan pada awal atau akhir perjalanan.
Kuil ini memiliki sejarah lebih dari 1.300 tahun dan pernah menjadi pusat kekuasaan keluarga Fujiwara. Pada periode Kamakura dan Muromachi, Kofukuji memperoleh kewenangan besar di Provinsi Yamato, wilayah yang kini menjadi Prefektur Nara.
Kompleksnya dikenal melalui Aula Emas Tengah, Aula Emas Timur, Aula Harta Nasional, serta pagoda. Aula Emas Tengah yang berdiri sekarang selesai direkonstruksi pada 2018 dengan ukuran dan bentuk yang mengacu pada bangunan dari periode Nara.
Pagoda lima tingkat Kofukuji pertama kali dibangun pada 730 atas perintah Permaisuri Komyo. Bangunan yang terlihat sekarang merupakan hasil pembangunan kembali dari periode Muromachi. Dengan tinggi 50,1 meter, pagoda tersebut menjadi salah satu pagoda kayu tertinggi di Jepang.
Jam kunjungan bangunan berbayar umumnya berlangsung pukul 09.00 sampai 17.00 dengan penerimaan terakhir pukul 16.45. Tiket terpisah berlaku untuk Aula Emas Tengah, Aula Emas Timur, dan Aula Harta Nasional. Pengunjung juga dapat membeli tiket gabungan untuk ketiganya.
Museum Nasional Nara Menampilkan Seni Buddha secara Mendalam
Museum Nasional Nara berada di antara Kofukuji dan Todaiji. Bangunan museum memberikan pilihan kunjungan dalam ruangan bagi wisatawan yang ingin memahami patung, lukisan, benda ritual, dan peninggalan arkeologi yang berkaitan dengan perkembangan agama Buddha di Jepang.
Koleksi tetap museum menampilkan karya seni, dokumen, dan benda arkeologis yang terutama berhubungan dengan agama Buddha. Patung Buddha dapat dilihat sepanjang tahun di Aula Patung Buddha, sedangkan ruang lain digunakan untuk benda ritual serta pameran yang berubah sesuai jadwal.
Museum biasanya buka pukul 09.30 sampai 17.00 dengan penerimaan terakhir 30 menit sebelum tutup. Jam operasional dapat diperpanjang pada Sabtu atau saat acara tertentu. Museum umumnya tutup pada Senin, kecuali ketika Senin bertepatan dengan hari libur, serta pada periode akhir tahun.
Kunjungan ke museum dapat ditempatkan pada siang hari ketika taman mulai padat atau cuaca terlalu panas. Setelah melihat bangunan keagamaan secara langsung, koleksi museum membantu pengunjung mengenali teknik pembuatan patung, bentuk benda upacara, dan perubahan seni dari satu periode ke periode lain.
Gunung Wakakusa Membuka Pemandangan Luas di Bagian Timur
Di belakang kawasan Todaiji dan Kasuga Taisha terdapat Gunung Wakakusa. Gunung setinggi 342 meter ini memiliki permukaan yang didominasi rumput. Bentuknya terdiri atas beberapa tingkat sehingga pengunjung dapat berhenti pada titik pandang pertama tanpa harus mencapai puncak.
Dari atas, pengunjung dapat melihat Nara Park, Todaiji, Kota Nara, serta Gunung Ikoma. Pemandangan menjadi lebih luas ketika mencapai tingkat tertinggi. Jalur pendakian tidak terlalu panjang, tetapi sebagian bagian cukup menanjak dan terbuka terhadap matahari.
Area berbayar Gunung Wakakusa umumnya buka pukul 09.00 sampai 17.00, di luar periode akses khusus. Tiket individu untuk pelajar sekolah menengah hingga orang dewasa tercatat 150 yen, sedangkan siswa sekolah dasar dikenai 80 yen. Jadwal dapat berubah mengikuti cuaca dan agenda pemeliharaan.
Pada Januari, gunung ini menjadi lokasi Wakakusa Yamayaki. Dalam acara tersebut, rumput di lereng dibakar sebagai bagian dari tradisi yang menandai datangnya awal musim semi di Nara. Cahaya api dapat terlihat dari berbagai bagian kota dan menjadi salah satu agenda tahunan terkenal di sekitar taman.
“Gunung Wakakusa menunjukkan bahwa daya tarik Nara Park tidak berhenti pada halaman kuil. Ketinggian memberi sudut pandang yang memperlihatkan hubungan kota, hutan, dan bangunan kuno secara utuh.”
Warna Nara Park Berubah Mengikuti Musim
Setiap musim membawa tampilan berbeda. Musim semi menghadirkan bunga sakura di sejumlah lapangan dan tepian jalan. Rusa terlihat berjalan di bawah ranting yang dipenuhi bunga, sementara area terbuka dipadati keluarga dan wisatawan.
Pada musim panas, pepohonan tumbuh lebat dan memberi keteduhan di jalur menuju Kasuga Taisha. Pagi hari menjadi waktu yang lebih nyaman karena suhu belum terlalu tinggi. Rusa sering beristirahat di bawah pohon atau mendekati area berumput yang lebih sejuk.
Musim gugur menampilkan daun mapel merah dan ginkgo kuning di sekitar kolam, kuil, serta jalur hutan. Perpaduan rusa, dedaunan, lentera batu, dan bangunan kayu menjadikan periode ini salah satu waktu yang paling banyak dipilih untuk fotografi. Situs pariwisata Nara secara khusus menempatkan warna musim gugur sebagai salah satu daya tarik utama taman.
Musim dingin membuat pemandangan terasa lebih terbuka karena sebagian pohon kehilangan daun. Udara dapat sangat dingin, tetapi jumlah pengunjung cenderung lebih terkendali di luar hari libur. Rusa dengan bulu musim dingin terlihat lebih tebal dan sering berkumpul di lapangan yang terkena sinar matahari.
Rute Sehari agar Tidak Terjebak di Satu Area
Perjalanan dapat dimulai dari Kofukuji pada pagi hari karena lokasinya dekat Stasiun Kintetsu Nara. Setelah melihat aula dan kawasan pagoda, pengunjung dapat berjalan melewati Museum Nasional Nara menuju Todaiji. Jarak antartempat relatif dekat, tetapi waktu mudah bertambah karena banyak rusa dan titik foto di sepanjang jalan.
Setelah mengunjungi Aula Buddha Besar, perjalanan dapat dilanjutkan menuju Nigatsudo. Dari sana, jalur bergerak ke arah Gunung Wakakusa atau turun menuju Kasuga Taisha. Pengunjung yang tidak ingin mendaki dapat langsung berjalan melalui jalur lentera menuju kompleks Shinto tersebut.
Makan siang dapat dilakukan di sekitar jalur menuju Todaiji, kawasan dekat museum, atau pusat pertokoan di arah Stasiun Kintetsu Nara. Beberapa tempat menawarkan mi, sushi daun kesemek, hidangan berbahan teh Yamato, serta puding yang menggunakan gambar Buddha Besar sebagai identitas kemasan.
Sore hari dapat digunakan untuk kembali ke Museum Nasional Nara atau berjalan menuju Ukimido, paviliun kayu yang berdiri di atas Kolam Sagiike. Area ini menawarkan suasana lebih tenang daripada jalur utama rusa dan sering dikunjungi menjelang matahari terbenam.
Sebelum meninggalkan taman, seluruh sampah perlu diperiksa dan dibawa kembali. Biskuit rusa sebaiknya dihabiskan di area yang cukup lapang, bukan dekat jalan kendaraan atau tangga kuil. Pengunjung juga perlu menjaga jarak dari rusa yang sedang makan, tidur, merawat anak, atau menunjukkan gerakan agresif.
